Sejarah Ilmu Tajwid dan Para Ulama Pemuka dalam Keilmuannya

Ilmu tajwid merupakan salah satu cabang ilmu Al-Qur’an yang berperan penting dalam menjaga ketepatan bacaan, mulai dari pengucapan setiap huruf, sifat-sifatnya, panjang-pendek bacaan, hingga penerapan berbagai hukum dalam tilawah. Ilmu ini tidak lahir sebagai sebuah disiplin yang langsung tersusun lengkap dalam satu masa. Ia tumbuh secara bertahap mengikuti kebutuhan umat Islam untuk menjaga bacaan Al-Qur’an sebagaimana diterima dan diajarkan melalui tradisi talaqqi.

Sebelum tajwid dibukukan menjadi sebuah disiplin ilmu, praktik membaca Al-Qur’an dengan benar telah berlangsung sejak masa Rasulullah ﷺ. Para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an secara langsung, kemudian mengajarkannya kepada generasi setelah mereka. Seiring meluasnya wilayah Islam dan bertambahnya masyarakat non-Arab, para ulama kemudian memberikan perhatian lebih besar terhadap pencatatan, penjelasan, dan sistematisasi kaidah-kaidah bacaan.

Berikut perjalanan singkat perkembangan ilmu tajwid sekaligus beberapa ulama yang memiliki kontribusi penting dalam membangun dan mengembangkan disiplin ini.


1. Tajwid Berawal dari Praktik Membaca Al-Qur’an

Pada masa Rasulullah ﷺ, belum terdapat kitab yang secara khusus membahas makharijul huruf, shifatul huruf, idgham, mad, waqaf, dan berbagai istilah tajwid sebagaimana dikenal sekarang.

Namun, bukan berarti prinsip-prinsip tersebut belum ada.

Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar dan mengajarkannya kepada para sahabat. Para sahabat kemudian menerima bacaan tersebut melalui pendengaran dan praktik langsung. Dari sinilah tradisi talaqqi menjadi salah satu karakter penting dalam transmisi bacaan Al-Qur’an.

Generasi tabi’in kemudian menerima bacaan dari para sahabat, lalu generasi setelahnya menerima dari para tabi’in. Dengan demikian, ilmu membaca Al-Qur’an pada awalnya lebih banyak diwariskan dalam bentuk praktik lisan dan sanad, bukan melalui buku teks.

Hal ini penting untuk dipahami: pembukuan ilmu tajwid bukanlah awal munculnya cara membaca Al-Qur’an dengan benar. Pembukuan merupakan tahap berikutnya untuk mendokumentasikan dan menjelaskan kaidah yang sebelumnya telah dipraktikkan dan diwariskan.


2. Mengapa Ilmu Tajwid Mulai Dibukukan?

Seiring berkembangnya Islam, umat Islam tidak lagi hanya terdiri dari masyarakat Arab. Islam menyebar ke berbagai wilayah dan bertemu dengan bangsa-bangsa yang memiliki latar belakang bahasa berbeda.

Pada saat yang sama, penggunaan bahasa Arab juga mengalami perkembangan. Muncul kekhawatiran terjadinya lahn, yaitu kesalahan dalam pengucapan atau bacaan.

Para ulama kemudian memberikan perhatian terhadap berbagai aspek bahasa Arab dan bacaan Al-Qur’an, termasuk pengucapan huruf, harakat, struktur bahasa, serta berbagai bentuk bacaan yang diriwayatkan.

Dari proses panjang inilah pembahasan yang sekarang dikenal sebagai ilmu tajwid semakin berkembang.

Dengan demikian, sejarah tajwid tidak dapat dipisahkan dari sejarah ilmu qira’at, bahasa Arab, fonetik Arab, dan tradisi pengajaran Al-Qur’an.


3. Abu Muzahim Al-Khaqani: Salah Satu Pelopor Pembukuan Tajwid

Salah satu nama yang sangat penting ketika membicarakan sejarah awal ilmu tajwid adalah Abu Muzahim Musa bin Ubaidillah Al-Khaqani, yang wafat pada 325 H.

Beliau dikenal sebagai seorang imam qira’at dan ahli dalam bacaan Al-Qur’an. Yang membuat namanya sangat penting dalam sejarah tajwid adalah karya berbentuk nazham yang dikenal sebagai Al-Qashidah Al-Khaqaniyyah, atau Ar-Ra’iyyah.

Ibnu Al-Jazari menyebut Abu Muzahim sebagai orang pertama yang menyusun karya khusus dalam ilmu tajwid yang beliau ketahui. (Daef Quran School)

Nazham tersebut terdiri dari sekitar 51 bait dan membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kualitas bacaan Al-Qur’an, termasuk pentingnya menjaga huruf, menghindari kesalahan bacaan, serta beberapa kaidah pengucapan. (Quran Online Library)

Posisi Al-Khaqani menjadi penting karena pada masa sebelumnya pembahasan tajwid banyak berada dalam pembahasan qira’at dan praktik membaca Al-Qur’an. Karya beliau menjadi salah satu langkah awal menuju pembahasan tajwid sebagai bidang yang lebih mandiri.


4. Abu ‘Amr Ad-Dani: Memperkuat Tradisi Ilmiah Tajwid

Beberapa generasi setelah Al-Khaqani, muncul ulama besar dari Andalusia yang memiliki kontribusi luar biasa dalam ilmu qira’at dan tajwid, yaitu Abu ‘Amr Utsman bin Sa’id Ad-Dani, wafat pada 444 H.

Ad-Dani dikenal luas sebagai salah satu imam besar dalam ilmu qira’at. Dalam bidang tajwid, salah satu karya beliau yang terkenal adalah:

At-Tahdid fi Al-Itqan wa At-Tajwid

Karya ini secara khusus membahas persoalan pengucapan dan ketepatan dalam membaca Al-Qur’an. Kitab tersebut menjadi salah satu karya penting dalam perkembangan literatur tajwid klasik. (الموسوعة القرآنية)

Ad-Dani juga memiliki kontribusi besar dalam dokumentasi ilmu qira’at. Hal ini menunjukkan bahwa pada periode tersebut hubungan antara qira’at dan tajwid masih sangat erat.

Tajwid tidak berkembang dalam ruang terpisah. Pembahasan tentang makhraj, sifat huruf, mad, idgham, waqaf, dan berbagai bentuk أداء (ada’) sering kali dibahas bersama ilmu qira’at.


5. Imam Makki bin Abi Thalib: Memperluas Pembahasan Tajwid

Tokoh penting berikutnya adalah Abu Muhammad Makki bin Abi Thalib Al-Qaisi, yang wafat pada 437 H.

Beliau merupakan salah satu ulama besar dalam bidang qira’at dan tajwid. Karya beliau yang sangat terkenal adalah:

Ar-Ri’ayah li Tajwid Al-Qira’ah wa Tahqiq Lafzh At-Tilawah

Kitab Ar-Ri’ayah termasuk salah satu karya penting dan luas dalam literatur tajwid klasik. Sumber-sumber yang membahas kitab ini menyebutnya sebagai salah satu karya utama dalam tajwid di kalangan ulama terdahulu. (الموسوعة القرآنية)

Makki membahas berbagai persoalan secara cukup rinci, antara lain:

  • makharijul huruf,
  • sifat-sifat huruf,
  • karakteristik bunyi,
  • hukum-hukum bacaan,
  • kesalahan dalam pelafalan,
  • serta cara menjaga ketepatan pengucapan.

Salah satu keistimewaan pendekatan Makki adalah perhatian terhadap aspek bunyi bahasa. Ia tidak sekadar menyebut hukum, tetapi juga berusaha menjelaskan karakter suara dan alasan di balik berbagai pembahasan tersebut. (Mandumah)

Karena itu, Ar-Ri’ayah dapat dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan tajwid menjadi ilmu yang semakin sistematis.


6. Ibnu Al-Jazari: Puncak Kodifikasi Ilmu Tajwid dan Qira’at

Jika berbicara mengenai ulama yang paling dikenal dalam bidang tajwid dan qira’at, nama Al-Imam Ibnu Al-Jazari tentu berada di antara yang paling utama.

Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf, wafat pada 833 H.

Ibnu Al-Jazari hidup beberapa abad setelah Al-Khaqani, Ad-Dani, dan Makki. Pada masa beliau, literatur tajwid dan qira’at telah berkembang cukup luas. Beliau kemudian melakukan kajian, pengajaran, perjalanan ilmiah, dan penyusunan karya-karya yang memiliki pengaruh sangat besar.

Dalam bidang tajwid, salah satu karya beliau yang paling terkenal adalah:

Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah

Matan ini disusun dalam bentuk nazham sehingga mudah dipelajari dan dihafalkan. Di dalamnya terdapat pembahasan penting mengenai makharijul huruf, sifat huruf, hukum-hukum bacaan, mad, waqaf, dan berbagai prinsip dalam membaca Al-Qur’an.

Selain itu, beliau menulis:

At-Tamhid fi ‘Ilm At-Tajwid

Kitab ini secara khusus membahas ilmu tajwid dan disusun dalam beberapa bab, termasuk pembahasan mengenai makna tajwid, tahqiq, tartil, serta upaya memperbaiki lafaz Al-Qur’an. (جامع الكتب الإسلامية)

Kontribusi Ibnu Al-Jazari tidak hanya dalam tajwid. Beliau juga merupakan salah satu tokoh terbesar dalam ilmu qira’at. Karya An-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr menjadi salah satu karya monumental dalam bidang qira’at sepuluh, sementara Ghayat An-Nihayah fi Tabaqat Al-Qurra’ menghimpun biografi para ahli qira’at. (Islamport)


7. Dari Generasi ke Generasi: Tajwid sebagai Ilmu dan Talaqqi

Perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bahwa ilmu tajwid berkembang melalui dua jalur yang saling melengkapi.

Pertama, jalur talaqqi

Bacaan Al-Qur’an diwariskan dari guru kepada murid melalui mendengar, membaca di hadapan guru, mengulang, dan mendapatkan koreksi.

Kedua, jalur kitab dan kodifikasi

Para ulama kemudian menulis dan menyusun berbagai kaidah agar ilmu tersebut dapat dipelajari, diteliti, dan diwariskan dengan lebih sistematis.

Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.

Kitab menjelaskan kaidah, sedangkan talaqqi memastikan ketepatan praktik.

Seorang santri mungkin dapat menghafalkan bahwa huruf tertentu keluar dari makhraj tertentu. Namun, ketika ia membaca, seorang guru dapat mendengar apakah makhraj tersebut benar-benar telah diterapkan.

Demikian pula dalam shifatul huruf. Teori dapat menjelaskan jahr, hams, syiddah, rakhawah, isti’la’, istifal, dan sifat lainnya. Tetapi kemampuan menghasilkan karakter suara tersebut membutuhkan latihan dan koreksi secara langsung.


8. Beberapa Ulama Pemuka dalam Ilmu Tajwid

Jika diringkas, terdapat beberapa nama penting yang dapat ditempatkan dalam perjalanan perkembangan ilmu tajwid:

Ulama Wafat Kontribusi/Karya Penting
Abu Muzahim Al-Khaqani 325 H Al-Qashidah Al-Khaqaniyyah; salah satu karya awal yang khusus membahas tajwid
Imam Makki bin Abi Thalib 437 H Ar-Ri’ayah li Tajwid Al-Qira’ah
Abu ‘Amr Ad-Dani 444 H At-Tahdid fi Al-Itqan wa At-Tajwid
Ibnu Al-Jazari 833 H Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah, At-Tamhid, An-Nasyr

Tentu daftar tersebut belum mencakup seluruh ulama yang berkontribusi dalam perkembangan tajwid. Banyak ulama lain yang memiliki peran penting dalam qira’at, waqaf-ibtida’, ilmu bahasa, fonetik Arab, dan pengajaran Al-Qur’an.

Namun, keempat nama tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perjalanan tajwid dari pembahasan yang melekat pada qira’at menuju disiplin yang semakin sistematis dan memiliki literatur tersendiri.


9. Tajwid: Antara Teori dan Praktik

Salah satu kesalahan dalam mempelajari tajwid adalah menganggap bahwa ilmu ini cukup dikuasai dengan menghafalkan definisi dan hukum.

Padahal, inti tajwid adalah ketepatan membaca Al-Qur’an.

Seorang santri dapat mengetahui definisi makhraj, tetapi belum tentu mampu mengucapkan huruf dengan tepat. Ia dapat menghafal daftar sifat huruf, tetapi belum tentu mampu menghadirkan sifat tersebut dalam bacaannya.

Karena itu, pembelajaran tajwid idealnya berlangsung secara bertahap:

memahami teori → mendengarkan contoh → menirukan → membaca di hadapan guru → mendapatkan koreksi → mengulang hingga tepat.

Pola seperti ini sejalan dengan karakter ilmu Al-Qur’an yang sejak awal berkembang melalui tradisi pengajaran langsung.


10. Warisan Para Ulama untuk Generasi Hari Ini

Perjalanan ilmu tajwid selama berabad-abad memberikan sebuah pelajaran penting: menjaga bacaan Al-Qur’an membutuhkan ilmu sekaligus ketekunan.

Para ulama tidak hanya menulis buku. Mereka belajar dari guru, melakukan perjalanan ilmiah, mengajarkan Al-Qur’an, meneliti berbagai riwayat, kemudian menuangkan hasil kajian mereka ke dalam karya yang dapat dipelajari generasi berikutnya.

Dari Al-Khaqani, kita mengenal salah satu tonggak awal pembukuan tajwid. Dari Ad-Dani dan Makki, kita melihat bagaimana pembahasan tajwid semakin luas dan sistematis. Dan melalui Ibnu Al-Jazari, kita melihat salah satu bentuk kematangan tradisi keilmuan tajwid dan qira’at.

Hari ini, ketika seorang santri mempelajari makharijul huruf, shifatul huruf, hukum nun sakinah, mad, waqaf, dan berbagai kaidah tajwid, sesungguhnya ia sedang memasuki tradisi keilmuan yang telah dibangun dan diwariskan oleh para ulama selama berabad-abad.

Penutup

Sejarah ilmu tajwid pada hakikatnya adalah sejarah ikhtiar umat Islam dalam menjaga ketepatan bacaan Al-Qur’an.

Ia bermula dari bacaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ, diwariskan oleh para sahabat dan generasi setelahnya, kemudian dikaji, dijelaskan, dan dibukukan oleh para ulama.

Dari perjalanan tersebut kita belajar bahwa tajwid bukan sekadar teori tentang huruf dan hukum bacaan. Ia merupakan ilmu yang menghubungkan antara pengetahuan, ketepatan lisan, talaqqi, dan amanah dalam menjaga bacaan Al-Qur’an.

Karena itu, mempelajari tajwid sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan menjawab “apa hukumnya?”, tetapi berlanjut hingga mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: “apakah saya telah membacanya dengan benar?”

Dan di situlah peran guru, talaqqi, latihan, serta tradisi keilmuan para ulama tetap relevan hingga hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *