
At-Tibyān fī Syarḥ Akhlāq Ahlil-Qur’ān: Membentuk Akhlak Bersama Al-Qur’an
At-Tibyān fī Syarḥ Akhlāq Ahlil-Qur’ān merupakan karya yang membahas salah satu sisi penting dalam pendidikan Al-Qur’an: bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian pembacanya.
Kitab ini pada asalnya merupakan karya Al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Ājurri rahimahullah, yang dikenal dengan judul Akhlāq Ahlil-Qur’ān. Karya tersebut kemudian mendapatkan syarah dari Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, sehingga pembahasannya menjadi lebih mudah dipahami dan relevan untuk dikaji oleh para penuntut ilmu Al-Qur’an.
Kitab ini sangat sesuai ditempatkan sebagai materi pendamping dalam pendidikan tahfizh, tahsin, maupun pembelajaran Al-Qur’an secara umum, karena mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pembelajar Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya ayat yang dihafal, tetapi juga dari sejauh mana Al-Qur’an tercermin dalam akhlaknya.
Al-Qur’an dan Pembentukan Akhlak
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca dengan lisan. Ia adalah petunjuk yang seharusnya memengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, orang yang dekat dengan Al-Qur’an idealnya memiliki karakter yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an.
Inilah salah satu pesan utama kitab Akhlāq Ahlil-Qur’ān. Seorang ahlul Qur’an bukan hanya orang yang memiliki hafalan Al-Qur’an, tetapi orang yang berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Mempelajari kitab ini membantu santri memahami bahwa hafalan dan akhlak merupakan dua hal yang semestinya berjalan beriringan.
Siapakah Ahlul Qur’an?
Pembahasan tentang ahlul Qur’an menjadi salah satu bagian penting dalam memahami tujuan kitab ini.
Ahlul Qur’an adalah mereka yang memiliki hubungan erat dengan Al-Qur’an: membacanya, mempelajarinya, mengamalkannya, dan berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.
Dengan pemahaman ini, seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti pada target jumlah juz.
Ketika seorang santri berhasil menghafal satu juz, lima juz, sepuluh juz, atau bahkan seluruh Al-Qur’an, perjalanan sebenarnya belum selesai. Hafalan tersebut justru menjadi amanah yang harus dijaga dan diwujudkan dalam perilaku.
Al-Qur’an yang dihafal hendaknya menjadi Al-Qur’an yang hidup dalam akhlak.
Keutamaan Memiliki Akhlak yang Baik
Kitab ini memberikan perhatian besar terhadap pentingnya akhlak dalam kehidupan seorang muslim.
Akhlak yang baik bukan hanya berkaitan dengan hubungan kepada manusia, tetapi juga mencakup hubungan seorang hamba dengan Allah سبحانه وتعالى.
Seorang pembelajar Al-Qur’an dituntut untuk memiliki sifat rendah hati, menjaga lisannya, menghormati orang lain, menjauhi kesombongan, serta senantiasa memperbaiki dirinya.
Semakin seseorang mendapatkan ilmu dan semakin banyak Al-Qur’an yang ia kuasai, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk tunduk kepada Allah dan merendahkan hati di hadapan kebenaran.
Ilmu yang tidak melahirkan perubahan akhlak perlu dievaluasi kembali cara seseorang dalam menerima dan mengamalkannya.
Adab dalam Menuntut Ilmu Al-Qur’an
Pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan adab. Santri tidak hanya perlu mempersiapkan mushaf dan hafalan, tetapi juga mempersiapkan hati.
Di antara karakter yang perlu dibangun adalah ikhlas dalam belajar, bersungguh-sungguh, sabar, menjaga kehormatan guru, menghormati sesama penuntut ilmu, serta tidak mudah merasa telah mencapai kedudukan tinggi karena ilmu yang dimiliki.
Sikap tersebut sangat penting dalam pendidikan tahfizh.
Seorang santri mungkin mampu menghafal dengan cepat, memiliki suara yang bagus, atau mampu membaca dengan lancar. Namun, semua kelebihan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk meremehkan orang lain.
Sebaliknya, ilmu Al-Qur’an seharusnya melahirkan tawadhu’ dan rasa takut kepada Allah.
Al-Qur’an Harus Tampak dalam Kehidupan
Salah satu pesan penting yang dapat diambil dari kitab ini adalah bahwa ukuran keberhasilan mempelajari Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal.
Al-Qur’an harus memberikan pengaruh nyata.
Ketika seseorang mempelajari ayat tentang kejujuran, ia belajar menjadi orang yang jujur. Ketika membaca ayat tentang kesabaran, ia berusaha menjadi orang yang sabar. Ketika mempelajari perintah berbakti kepada orang tua, ia berusaha meningkatkan baktinya.
Dengan demikian, proses pembelajaran Al-Qur’an bergerak dari:
membaca → memahami → menghafal → mengamalkan → memperbaiki akhlak.
Inilah yang menjadikan pendidikan Al-Qur’an memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar pencapaian akademik.
Akhlak terhadap Guru dan Sesama
Kitab ini juga memberikan ruang penting bagi pembentukan hubungan sosial seorang ahli Al-Qur’an.
Santri perlu belajar menghormati guru, menerima nasihat, bersikap santun, dan tidak tergesa-gesa merasa paling benar.
Demikian pula terhadap sesama santri. Persaingan dalam hafalan seharusnya menjadi persaingan dalam kebaikan, bukan sumber kesombongan atau saling merendahkan.
Bagi sebuah ma’had, nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan sejak awal. Lingkungan belajar Al-Qur’an hendaknya menjadi tempat tumbuhnya ukhuwah, ketawadhuan, kedisiplinan, kesabaran, dan semangat saling menasihati dalam kebaikan.
Menyatukan Ilmu, Amal, dan Akhlak
Salah satu nilai yang membuat kitab ini relevan untuk pendidikan Al-Qur’an masa kini adalah penekanannya pada hubungan antara ilmu dan amal.
Santri belajar tajwid agar bacaannya benar. Ia belajar tahfizh agar memiliki hafalan yang kuat. Ia belajar tafsir agar memahami kandungan ayat. Namun, semua itu semestinya bermuara pada perubahan diri.
Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an idealnya menghasilkan tiga unsur yang saling berkaitan:
ilmu yang benar, ibadah yang benar, dan akhlak yang mulia.
Jika salah satu unsur tersebut hilang, pendidikan Al-Qur’an menjadi kurang sempurna.
Relevansi untuk Program Tahfizh dan Tahsin
At-Tibyān fī Syarḥ Akhlāq Ahlil-Qur’ān sangat relevan dijadikan materi pendamping dalam program tahfizh dan tahsin.
Santri yang setiap hari berinteraksi dengan Al-Qur’an perlu mendapatkan pembinaan akhlak secara terus-menerus. Hafalan yang banyak perlu disertai rasa tanggung jawab. Kemampuan membaca yang baik perlu disertai adab. Keunggulan dalam ilmu perlu disertai tawadhu’.
Dengan demikian, kitab ini dapat membantu membangun paradigma bahwa program tahfizh bukan hanya program menghafal Al-Qur’an, tetapi juga program membentuk manusia yang hidup bersama Al-Qur’an.
At-Tibyān fī Syarḥ Akhlāq Ahlil-Qur’ān mengajak pembacanya melihat Al-Qur’an dari sisi yang sangat mendasar: hubungan antara kitabullah dan pembentukan manusia.
Al-Qur’an yang dibaca dengan baik hendaknya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah. Al-Qur’an yang dihafalkan hendaknya semakin menjaga lisannya. Al-Qur’an yang dipelajari hendaknya semakin memperbaiki akhlaknya.
Karena itu, seorang santri tidak cukup hanya ditargetkan menjadi hafizh yang kuat hafalannya, tetapi juga diarahkan menjadi ahlul Qur’an yang baik akhlaknya.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar agar seseorang mampu mengatakan, “Saya telah menghafal Al-Qur’an,” tetapi agar kehidupannya semakin menunjukkan bahwa Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk yang ia baca, ia pahami, ia amalkan, dan ia wujudkan dalam akhlaknya.
